Saturday, August 16, 2014

Review Film Godzilla (2014): Masif dan Klasik ala Film Monster Jepang

wp_1_w

Bagi sebagian masyarakat, mungkin tidak terlalu familiar dengan nama “Godzilla”. Lain hal dengan mereka yang menyukai monster raksasa dari Jepang yang satu ini, di mana film pertamanya debut pada tahun 1950an silam dan membawa kesuksesan tersendiri untuk serial film kaiju (dalam bahasa Jepang, monster raksasa).
Sebelumnya, mungkin beberapa dari Anda sempat mengetahui Godzilla dari film versi Amerika yang berjudul sama yang debut pada tahun 1998 lalu. Film Godzilla versi Amerika tersebut, sayangnya, mendapatkan banyak kritik dari fans Godzilla atas perubahan yang terjadi baik pada segi cerita maupun Godzilla sendiri. Kini, dengan mengambil tema dan style langsung dari Godzilla orisinil milik Jepang, hadir kembali sebagai versi reboot dari film tahun 1998 itu. Seperti apakah hasil reboot yang diantisipasi oleh para fans Godzilla tersebut? 
Ken-Watanabe-Dr-Ichiro-Serizawa-Godzilla-2014
Kisah dimulai dengan kunjungan peneliti Ishiro Serizawa (Ken Watanabe) dengan Vivienne Graham (Sally Hawkins) menuju Filipina, tempat di mana terjadi longsor yang sangat dalam secara tiba-tiba di area penambangan. Ketika ditelusuri, mereka menemukan bahwa terdapat dua “kepompong” raksasa yang bersemayam di dalam longsoran tersebut beserta sebuah kerangka raksasa yang telah lama mati di sana. Tidak lama setelah penemuan tersebut, di area nuklir Janjira, Jepang, terjadi aktivitas gempa yang tidak wajar. Aktivitas tersebut menyebabkan longsor di sekitar area tersebut dan menyebabkan Janjira menjadi wilayah terisolasi karena bahaya radiasi nuklir.
Lima belas tahun kemudian, Ford Brody yang merupakan salah satu penghuni Janjira yang berhasil evakuasi dan selamat dari bahaya tersebut, telah hidup dan berkeluarga dengan tenang. Sementara ayahnya, Joe Brody, yang merupakan supervisor dari area nuklir Janjira tersebut, masih mencari penyebab sesungguhnya dari aktivitas gempa yang tidak wajar tersebut hingga kini. Ia meyakinkan anaknya bahwa kejadian lima belas tahun silam tersebut bukan dikarenakan oleh gempa semata, tetapi oleh sesuatu yang lain yang lebih besar dan berbahaya dari sekedar gempa biasa.
Bryan-Cranston-Aaron-Taylor-Johnson-Godzilla-2014
Dan pernyataan Joe pun tepat, karena bencana tersebut dikarenakan bangkitnya monster yang dinamakan “MUTO” dari kepompong yang ditemukan oleh Serizawa di Filipina. Dan MUTO ini mulai beraktivitas kembali setelah lima belas tahun lamanya, sekaligus mulai mengancam keberadaan makhuk hidup di Bumi. Hampir mustahil untuk bisa melawan MUTO ini, akan tetapi Serizawa yakin hanya ada satu makhluk yang mampu melawannya, yaitu sang predator alpha, Godzilla.
godzilla-2014-08
Hampir semua yang diharapkan setelah melihat berbagai teaser dan trailer ada di dalam film ini. Godzilla versi reboot ini memiliki beberapa elemen yang mengambil dari elemen Godzilla versi Jepang yang lama, termasuk di antaranya desain monster dan suara raungan khasnya. Melihat seberapa besar bentuk monster raksasa ini, maka dapat ditebak pula bahwa kehancuran yang dibuatnya juga tidak akan kalah masifnya. Di dalam film, penonton bisa melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa kengerian dan teror yang dapat dilakukan oleh para monster raksasa ini terhadap sebuah kota yang mereka “kunjungi”.
godzilla-2014-prod-cap-3
Perkembangan cerita dari film Godzilla mungkin akan terasa cukup dangkal karena alur yang cenderung pelan dan naik turun. Para penonton yang mengharapkan banyak adegan pertarungan Godzilla melawan MUTO tersebut mungkin harus sedikit menurunkan ekspektasi tersebut karena porsi yang diberikan sepanjang film berlangsung tidaklah sebanyak yang diduga. Walau begitu, alur cerita dan perkembangan karakter manusia cukup kuat untuk bisa mendukung sisi emosional dari film ini, terutama perkembangan yang terjadi pada para tokoh yang menjadi sorotan utama di dalamnya.
Dengan menonton film Godzilla versi reboot ini, penonton pun disajikan sebuah film monster ala Jepang yang, untuk sebagian penikmatnya, mampu memberikan kesan klasik dan penyegar dari film-film Godzilla sebelumnya. Jika Anda adalah penikmat film monster, tentu saja film Godzilla (2014) ini tidak boleh Anda lewatkan begitu saja.

Selamat menonton! :)

Sumber : http://www.jagatreview.com 
oleh Priska Suryawinata
Score : 7.1 dari 10


Directed by Gareth Edwards Produced by Mark Bomback, Peter Chernin, Dylan Clark, Thomas m. Hammel Written by Max Borenstein (screenplay), Dave Callaham (story) Starring Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Bryan Cranston, Ken Watanabe, Sally Hawkins Music by Alexandre Desplat Editing by Bob Duscay Studio Warner Bros Pictures time 123 minutes Country United States Language English

Dawn of The Planet of The Apes (2014) : Peperangan Kaum Kera Canggih


Dawn of the Planet of the Apes bercerita tentang perang yang terjadi antara kaum para kera canggih yang terlahir dari hasil uji coba laboratorium para peneliti di Amerika dan para manusia yang masih tersisa di bumi. Di film sekuelnya ini, digambarkan bahwa para kera tersebut, masih di bawah pimpinan Caesar (disuarakan oleh Andy Serkis) sudah memiliki rumah sendiri jauh dari tempat para manusia tinggal. Sementara itu, para manusia, yang sedang krisis daya (listrik padam dan kekurangan air dan bahan pangan), tentu membutuhkan daya yang cukup besar untuk menopang hidup mereka. Sayang sungguh sayang, satu-satunya kekuatan yang ada ternyata terdapat di tengah-tengah rumah para kera itu, yaitu sebuah bendungan raksasa berkekuatan besar yang bahkan mampu menyelamatkan jiwa manusia. Tetapi, para manusia itu terlalu ngeri untuk datang ke sana mengingat mereka sendiri tak tahu apa yang akan terjadi. Mereka takut ketika sedang “melihat-lihat” di sekitar hutan, tidak hanya para kera yang mengoyak tubuh mereka, tapi juga rusa liar, beruang yang kelaparan, atau hewan-hewan ganas lainnya.
Tapi tidak sekumpulan orang ini. Malcolm (Jason Clarke) bersama rombongannya menerobos hutan tersebut dengan harapan mereka bisa tiba di bendungan itu tanpa kemungkinan terbunuh. Namun, harapan pasti pupus jua tanpa digerayangi rintangan, bukan? Benar saja, di tengah-tengah perjalanan, salah satu anggota rombongannya, Carver, berpapasan dengan dua ekor kera yang habis berburu. Sontak, dan tak tahu harus berbuat apa, Carver mengangkat senjata dan menarik pelatuknya hingga raungannya terdengar ke seluruh penjuru hutan. Mengetahui hal ini, Caesar langsung “memanggil” keluarga besarnya dan mendatangi sumber bunyi tembakan. Dalam waktu beberapa menit saja, Malcolm dan rombongannya sudah dikepung dalam sebuah lingkaran yang kecil di antara keluarga besar para kera yang bergelantungan di mana-mana. Caesar murka, mengetahui bahwa salah satu anggota keluarganya hampir terbunuh (lagi) oleh tangan manusia, dan memperingati para manusia itu untuk pergi dan tak boleh kembali.
Tapi apa mau dikata. Namanya manusia, pasti berontak juga. Malcolm, setelah berpikir matang-matang, dan atas seijin keluarganya dan walikotanya, Dreyfus (Gary Oldman), akhirnya kembali ke hutan untuk meminta ijin pada Caesar agar beberapa dari rombongannya bisa bekerja di bendungan itu, yang disetujui oleh Caesar. Tentu saja, ada kawan muncul lawan. Sikap setuju Caesar untuk membiarkan para manusia bekerja di rumahnya, memicu percik-percik perlawanan dalam diri beberapa anggota-anggota kera yang lain, satu yang paling ambisius adalah Koba (disuarakan oleh Tobby Kebbell). Ambisius Koba perlahan-lahan makin memuncak ketika melihat para kera yang mulai mengenal para manusia dengan berbagai cara; ini membuatnya makin geram, yang mengakibatkan perpecahan tidak hanya bagi keluarga para manusia, tetapi juga rumah mereka sendiri.
- Malcolm dijaga dua kera ke bendungan (jrook.com
Film ini bergerak maju. Transisi antara satu naratif ke naratif yang lain begitu jelas dan dibungkus dengan penggambaran yang ciamik. Tidak hanya itu, pergantian scene dari, misalnya, keadaan di hutan hingga keadaan di pusat kota dibundel dengan sangat rapi, membuat para penonton dengan luwesnya mengikuti jalan cerita tanpa merasa diseret. film yang memakan bujet cukup besar untuk pembuatan CGI ini terasa mengalir dalam penceritaannya. Tak hanya itu, sekuel film Rise of the Planet of the Apes, yang dirilis tahun 2011 ini, menyuguhkan cerita yang segar dengan penjelasan yang cukup menyeluruh. Singkat kata, tanpa harus menonton film pertamanya, penonton bisa tetap menikmati film yang meraih skor 8,3 dari laman film virtual IMDB ini.

Sinematografi
Berbicara masalah sinematografi, Michael Seresin juaranya. Di film ini, ia kembali bermain-main dengan teknik penggambaran, dan dengan demikian mampu menyiduk emosi penonton dengan sedemikian rupa, dalam scene yang padahal cukup rumit dalam proses pengambilannya. Teknik pengambilan adegan para kera di hutan dengan wide-shot betul-betul mujarab. Dari satu adegan itu saja, para penonton disuguhkan tidak hanya panorama hutan yang begitu teduh, tetapi juga pemandangan keluarga besar para kera yang bergelantungan di atas pohon yang menjulang. Yang lebih menariknya, kepiawaian Seresin dalam memilah-milah adegan sesuai dengan emosi penonton juga tidak boleh diilewatkan. Misalnya, adegan ketika para kera yang menyerang pusat kota saat suasana mulai memuncak, tentu kamera harus menangkap secara seimbang keadaan kota yang kacau balau (diam) dengan gerakan para kera yang agresif (bergerak). Di sini, Seresin memilih menggunakan teknik panning sehingga atmosfer film terkesan terjaga dan dinamis. Atau adegan lain, ketika Koba dan Ash bertarung di bendungan karena geram satu sama lain, Seresin menggunakan teknik shaky camera seperti halnya ia pada saat yang bersamaan juga mengaduk-ngaduk emosi penonton saat itu.
- Koba bertarung dengan Ash (jrook.om)

- Adegan penyerbuan ke pusat kota (jrook.com)
Musik
“Film tanpa musik bagaikan sayur tanpa garam”, begitu kata mutiaranya.
Gubahan tangan Michael Giaccino, memberikan nuansa baru dalam film ini. Permainan strings, genderang, dan tuba yang terasa dominan dalam film ini, membuat cerita yang juga ber-genre drama dan aksi ini makin terasa gurih. Adegan para kera “menyabot” para manusia, misalnya, yang diiringi dengan sederet bunyi genderang membuat adegan terlihat lebih apik. Adegan lain, ketika Caesar dirawat di rumah Will Rodman (James Franco) yang diiringi dengan suara selo menciptakan suasana sedih dalam diri penonton. Kemudian, adegan Malcolm bersembunyi dari para kera pembunuh untuk mengambil obat-obatan untuk Caesar dan bertemu anak laki-laki Caesar terasa begitu mengaduk-ngaduk emosi para penonton dengan suara violin yang dimainkan dalam nada yang tinggi dan dinamisasi yang kompleks.

Pemain
Wajah-wajah baru dalam film ini bisa dibilang pendatang baru, kecuali Gary Oldman dan Jason Clarke. Kehadiran Gary Oldman, jelas, tidak hanya menambah citra film sains fiksi di mata para sineas dunia hiburan. Perannya sebagai Dreyfus, mantan polisi yang sekarang menjadi seorang walikota, memberi bekas yang takkan mau hilang dalam dunia perfilman. Oldman, pantaslah, memang dikenal sebagai aktor yang terkenal memerankan tokoh-tokoh kebapakan atau seseorang yang bertanggung jawab atas sesuatu (in charge), sehingga tokoh Dreyfus, bisa dikatakan, dapat dikejawantahkan dengan baik.
Lain halnya dengan Jason Clarke, meski namanya baru terdengar belakangan, terlebih karena peran anta-protagonisnya dalam Zero Dark Thirty (2013), karakternya sebagai Malcolm mampu ia transfer ke penceritaan dengan begitu stabil. Karakternya kuat, tidak mudah terpengaruh oleh pencitraan karakter lain, yang membuat Malcolm dicirikan sebagai sosok pemimpin dalam rombongannya. Perannya sebagai seorang ayah juga memperkuat fakta itu. Inilah yang mungkin akan membawa nama Clarke menjadi hot stuff dalam dunia perfilman, khususnya jenis sains fiksi atau drama.
Pemain lain seperti Kerri Russell (Ellie), Kodi Smitt-McPhee (Alexander), dan Kirk Avecedo (Carver), meskipun seakan seperti pemanis, namun berpengaruh penting dalam penjalanan cerita secara keseluruhan. Seperti halnya Andy Serkis, yang tubuhnya dimanipulasi oleh teknik komputer tingkat tinggi CGI dalam bentuk Caesar, dan Toby Kebble dalam bentuk Koba, juga memiliki pengaruh yang vital (mengingat mereka protagonisnya). Terlepas dari itu, suara Serkis dan Kebble, dengan bantuan teknologi sulihsuara, yang memungkinkan suara mereka menjadi lebih berat dan “menyeramkan,” terdengar sangat apik dan tidak mengganggu penonton.


Kesimpulan
Sebetulnya masih banyak yang bisa dikupas dari film ini, namun setidaknya aspek-aspek di ataslah yang perlu digarisbawahi terlebih dahulu. Dari alur cerita, teknik pengambilan gambar, musik pengiring, sampai para pemain, sangat disayangkan jika semua itu terlewat begitu saja. Tanpa basa-basi, film ini, sekali lagi, kalau diibaratkan hadiah, merupakan sebuah tontonan yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik. Yang jika siapapun membuka kertas kado pertama, pasti akan terpesona dengan kertas kado di lapisan kedua, dan seterusnya hingga filmnya usai. Dengan demikian, Dawn of the Planet of the Apes bukanlah suguhan “kacangan” yang bercerita tentang sekumpulan monyet liar yang berambisi menguasai dunia, melainkan lebih dari itu. Film ini mengingatkan pada kita, sebagai umat manusia, untuk tidak saling menyerang satu sama lain, tidak untuk kepuasan pribadi semata.
- Malcolm dan Caesar bersikutan
Selamat menonton! :)

Sumber : http://hiburan.kompasiana.com
oleh Himawan Pradipta
Score : 8.3 dari 10
Directed by Matt Reeves Produced by Mark Bomback, Peter Chernin, Dylan Clark, Thomas m. Hammel Written by Pierre Boulle, Mark Bomback, Rick Jaffa, Amanda Silver Starring Andy Serkis, Jason Clarke, Gary Oldman, Keri Russell, Toby Kebbell, Kodi Smit-McPhee, Kirk Acevedo, Nick Thurston Music by Michael Giacchino Editing by William Hoy, Stan Salfas Studio Twentieth Century Fox time 130 minutes Country United States Language English

Sunday, July 13, 2014

Review Deliver Us from Evil (2014), Iblis di Tengah Investigasi Polisi

Menonton film horor mancanegara menjadi sebuah tren tersendiri di kalangan penggemar genre tersebut. Maka, tak heran jika film bernuansa mengerikan ini mampu membuat penonton antri di loket bioskop.

Pada 2014 ini, tercatat hanya sedikit judul film horor mancanegara yang memenuhi bioskop tanah air, contoh saja Devil’s Due dan Oculus. Kini, sebuah film horor baru bertema eksorsisme alias pengusiran setan baru saja dirilis dengan judul Deliver Us from Evil.
Bisa dibilang, `Deliver Us from Evil` merupakan salah satu film horor yang dikemas dengan cukup unik. Pasalnya, tokoh utama dalam film ini adalah seorang polisi yang memiliki insting tajam dalam mengungkap kejahatan di kotanya. Aktor Eric Bana mendapat kehormatan sebagai sang tokoh utama bersama Edgar Ramirez dan Olivia Munn.













Disutradarai oleh Scott Derrickson, `Deliver Us from Evil` diambil dari kehidupan nyata seorang polisi bernama Ralph Sarchie yang kemudian menjadi seorang demonologist. Naskahnya sendiri diadaptasi dari buku karya Ralph dan Lisa Collier Cool berjudul Beware the Night yang dirilis pada 2001.
Keunikan film horor ini bisa dilihat di bagian awalnya yang memperlihatkan para serdadu Amerika sedang berperang di Irak hingga akhirnya mereka menemukan sebuah ruang bawah tanah yang sangat mistis.
Setelah kembali ke Amerika Serikat, beberapa dari mereka sering membuat ulah yang berujung pada tindak kekerasan yang janggal. Hal itu membuat Ralph Sarchie yang masih menjadi polisi kota New York harus memecahkan kasusnya.
Alhasil, Ralph dan rekannya malah dibawa ke beragam misteri yang memaksa mereka untuk terus menginvestigasi kasusnya. Ralph kemudian berkenalan dengan seorang pendeta bernama Mendoza yang menguasai cara pengusiran setan.












Seiring berjalannya waktu, Ralph akhirnya bisa menemukan jalan terhadap rentetan kejadian aneh dari kasus yang sedang ditanganinya itu. Ternyata, mereka semua berhadapan dengan sebuah kekuatan iblis yang sangat sulit dibendung.

Setelah investigasinya memakan korban, Ralph pun mulai khawatir saat anak dan istrinya turut dilibatkan hingga akhirnya menghilang. Ia pun terpaksa meminta bantuan Mendoza agar bisa mengalahkan sosok iblis yang mendominasi tubuh dari salah satu veteran perang tersebut. Untungnya, Ralph sukses menuntaskan kasusnya hingga membawanya tertarik ke dunia paranormal.













`Deliver Us from Evil` memang tidak berpotensi menjadi film horor terbaik seperti halnya The Conjuring yang dirilis 2013 lalu. Akan tetapi, banyak para penggemar horor yang menganggap film ini cukup membuat bulu kuduk merinding.


Salah satu komentar datang dari Marcell Siahaan, penyanyi yang tenar dengan tembang Semusim. Ia mengaku bahwa filmnya memiliki bobot yang luar biasa. "Saya menyukai berbagai dialog yang ada di film ini. Benar-benar membongkar anggapan banyak orang mengenai reliji dan hal-hal mistis," ujarnya saat menghadiri premiere film yang diselenggarakan di Djakarta Theater pada Selasa (1/7/2014) malam lalu.


Selain itu, beberapa penonton pun tampak puas dengan film ini. "Banyak sekali adegan yang membuat saya merinding dan masih kepikiran sampai sekarang. Filmnya sendiri benar-benar menegangkan dan cukup mencekam," ungkap salah satu penonton.












Terlepas dari pujian yang ada, `Deliver Us from Evil` memiliki muatan horor yang cukup mencekam, terutama efek suara dan make-up, meskipun di awal cerita kita hanya disuguhi oleh alur bertema kriminal. Selain itu, tampak jelas bahwa para pembuat film ingin memadukan unsur supranatural dengan investigasi kepolisian.

Kritik bagi film ini bisa ditujukan pada kurangnya penjelasan beberapa hal berbau supranatural dan terlalu ditonjolkannya unsur laga serta komedi terselubung yang terkadang mengurangi nuansa seram film ini.
Meski demikian, kehadiran `Deliver Us from Evil` di bioskop tanah air paling tidak mampu memuaskan dahaga para penggemar film horor. Sehingga, jika Anda ingin mencari variasi tontonan di tengah maraknya peperangan antara Autobot dan Decepticon, maka film ini bisa menjadi sebuah suguhan alternatif bersama teman-teman dan pasangan Anda. 

Sumber : http://showbiz.liputan6.com 
Score : 6.5 dari 10

Directed by Sccot Derrickson Produced by Marty Bowen, Wyck Godfrey, Michele Imperato, Isaac Klousner, Written by Sccot Derrickson, Paul Harris Boardman, Ralph Sanchie Starring Eric Bana, Edgar Ramirez, Ollivia Munn, Chris Coy, Sean Harris, Mike Houston, Lulu Wilson Music by Christoper Young Editing by Jason Hallman Studio Screen Gems (Sony) time 120 minutes Country United States Language English

Sunday, July 6, 2014

ZALIA : Moslem Wear Collection by Zalora


Zalora sebagai situs e-commerce terbesar dan tercepat di Asia Tenggara membuktikan perannya untuk memajukan busana muslim melalui dukungannya bersama Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) untuk menjadikan Indonesia sebagai Moslem Fashion Capital di tahun 2020. 


  
untuk mendukung program ini maka Zalora meluncurkan lini busana terbarunya dengan merambah bisnis busana muslim. Zalia menjadi nama brand yang diusung situs fashion e-commerce terbesar di Asia Tenggara ini. Public Relations Manager Zalora Indonesia, Anggita Vela, mengatakan Zalia merupakan bentuk dukungan Zalora untuk memajukan busana muslim tanah air dan demi terwujudnya Indonesia sebagai pusat busana muslim dunia di tahun 2020. “Zalora berharap dengan mengapresiasi insan kreatif dalam dunia busana muslim, serta menghadirkan koleksi terbaru busana muslim dari Zalia memberikan nuansa baru di industri busana Indonesia, Pada kesempatan ini Zalora memberikan peluang pada para desainer busana muslim untuk dapat mengembangkan kreatifitas dan bisnisnya, sekaligus mengajak mereka berkontribusi dalam membawa Indonesia sebagai pusat busana muslim dunia. “Peluncuran Zalia by Zalora ini sekaligus menghantarkan Dian Pelangi untuk pertama kalinya menjual produknya melalui e-commerce, di samping itu dengan dukungan dari Jenahara dan Ria Miranda, kami berharao apresiasi konsumen menjadi semakin loyal dengan Zalora,” ujar Anggita. Zalia hadir dengan memberikan pilihan busana muslim berupa baju koko, kaftan, pashmina, hingga aksesoris pendukung lainnya.

Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pertumbuhan bisnis pasar busana Muslim semakin menggairahkan dengan data transaksi busana muslim Eropa sebesar 1,5 miliar dolar per tahun. Managing Director Zalora Indonesia, Magnus Grimeland, mengatakan peluang tersebut salah satunya membuka wacana untuk Indonesia menjadi pasar busana muslim dunia di tahun 2020.
“Jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa, mayoritas populasinya adalah Muslim. Selain itu, setidaknya 75 juta orang online setiap harinya menjadikan Indonesia pasar yang potensial,” kata Magnus. Oleh karena itu, tambahnya, Zalora pun mendukung penuh gagasan tersebut dan berupaya mewujudkan program tersebut dengan memberikan wadah dan apresiasi terhadap para pelaku dalam industri busana Muslim Indonesia.

Zalora adalah situs ecommerce feseyen terbesar di Asia Tenggara. Didirikan pada awal 2012, Zalora telah hadir di Singapura, Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Hong Kong. Menawarkan koleksi lebih dari 500 merek lokal dan internasional dan desainer. Zalora Indonesia merupakan bagian dari Zalora Group, yang didirikan pada akhir 2011 oleh Rocket Internet GmbH, yang mencakup grup retail fashion online terkemuka di Asia Pasifik “The Iconic” di Australia dan Selandia Baru. Rocket Internet GmBH adalah inkubator startup online terbesar di dunia, beberapa usaha lainnya yang hadir di Indonesia meliputi Wimdu, Foodpanda, PricePanda, Lamudi, dan Carmudi.

selain itu situs belanja online Zalora dan Kementrian Perindustrian dan Ekonomi Kreatif memberikan penghargaan bagi para desainer, selebriti, selebgram juga hijabers Indonesia. Penghargaan ini diberikan karena mereka dianggap telah menjadi sumber inspirasi hijabers lainnya.
Penerima penghargaan tersebut diantaranya Dian Pelangi, Ria Miranda, dan Jenahara menjadi tiga perancang muda yang menerima penghargaan tersebut. Ada pula ikon fashion muslimah yaitu Alyssa Soebandono dan Zaskia Adya Mecca. Shireeenz dan Zahratul Jannah, yang merupakan ikon komunitas hijab selebriti Instagram pun terpilih sebagai penerima penghargaan tersebut. Tujuan pemberian penghargaan ini agar para pelaku fashion muslim semakin kreatif ke depannya.

Sumber : http://wolipop.detik.com/
               http://showbiz.metrotvnews.com/

Photos by : Mohammad Rizki Syahmanda


The Fault in Our Stars (2014), Tontonan Sedih nan Indah

Kapan terakhir Anda menonton film yang membuat air mata menggenang?
Jika ingin membuktikan diri sejauh mana Anda bisa menahan tangis saat menonton film, The Fault in Our Stars adalah pilihan tepat untuk menguji ketangguhan Anda. Kerap dikatakan, jangan lupa membawa tisu saat menonton film ini. Dan himbauan itu benar adanya. Entah Anda wanita atau pria, sulit rasanya untuk tidak menangis dan larut dalam kesedihan ketika menonton film yang diangkat dari novel laris karya John Green ini.
Bagusnya `The Fault in Our Stars` bukanlah kesedihan yang dijual. Kisahnya bukan hendak menguras air mata Anda berkali-kali, dalam arti sineasnya membangun cerita dengan menempatkan momen-momen yang bakal bikin sedih di sejumlah tempat sepanjang film. Bukan. Film ini tidak pakai trik murahan begitu.
Bak sebuah bangunan, filmnya disusun bata demi bata untuk di puncaknya kita tak sanggup menahan tangis lantaran kita tak rela melihat akhir kisah cinta tokoh utamanya.
Pertama, kita dikenalkan pada karakter Hazel Grace Lancaster yang dimainkan Shailene Woodley. Umurnya 16 tahun dan menderita kanker tiroid. Ia betahan hidup berkat obat Phalanxifor yang rutin diminumnya sambil pernapasannya dibantu tanki oksigen mini yang dibawanya ke mana-mana di dalam tas. Kita juga bertemu karakter utama satu lagi, Augustus Waters yang dimainkan Ansel Esgort. Augustus pernah menderita kanker osteosarkoma dan harus diamputasi salah satu kakinya. Augustus pakai kaki palsu, tapi kankernya hilang.
Menarik bagaimana dua tokoh utama kita ini digambarkan di film. Hazel Grace adalah tipikal gadis cantik yang menderita sakit. Mudah bagi kita jatuh hati padanya, merasa kasihan dan mungkin sudah menebak di awal film, tokohnya bakal dimatikan di ujung agar kita menangis sedih.
Sedang Augustus juga tipikal pangeran tampan yang bakal memikat gadis mana saja yang menatap mata ataupun senyumannya. Augustus digambarkan sebagai pria cool yang bersikap seolah paling tampan. Karakter macam begini tipikal, sebetulnya. Tokoh Rahul yang dimainkan Shahrukh Khan di Kuchkuch Hota Hai pun punya sifat seperti ini.
Augustus yang sok cool yang ingin mencintai Hazel, sedang Hazel sendiri bersikap defensif. Hazel tak ingin larut jatuh cinta karena ia merasa dirinya adalah granat yang setiap saat bisa meledak, melukai orang-orang yang dicintai ataupun mencintainya.
***
Yang serba tipikal di film ini toh tetap membuat kita jatuh hati pada karakternya. Hal ini tak lepas dari chemistry yang sangat kuat antara Woodley dengan Esgort. Mereka adalah pasangan di dalam layar yang paling meyakinkan sebagai kekasih dalam film Hollywood sejak... Entah sejak kapan.
Sejak awal kita sudah tahu mereka akan menjadi sepasang kekasih. Tapi bukan itu yang penting. Melainkan, sekali lagi, bagaimana filmnya dibangun bata demi bata agar kita jatuh hati pada pasangan ini.
Penonton berhasil dibuat sutradara Josh Boone jatuh hati pada Hazel dan Augustus. Dan dengan demikian, film ini telah berhasil menarik simpati penontonnya. Yang menonton ingin cinta mereka terwujud bahagia di akhir film.
Namun, seakan ada hukum tak tertulis berlaku di sini: kisah cinta yang akan selalu dikenang abadi justru bukan cerita cinta yang berakhir bahagia seperti kisah dongeng yang ditutup "Dan mereka hidup bahagia selamanya." Bukan. Romeo & Juliet berakhir dengan kematian, bahkan begitu pula Titanic-nya Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet.
`The Fault in Our Stars` pun tampak hendak menapaki jalan ini. Namun adalah sebuah perbuatan kriminal rasanya bila ulasan ini menyebut siapa yang mati di film ini. Yang patut disampaikan sebagai undangan bagi Anda menonton film ini adalah, sungguh menarik bagaimana kisahnya tidak jatuh menjadi cerita tentang orang-orang sakit yang patut mendapat belas kasihan. Kisah cinta Hazel dan Augustus sejatinya adalah sebuah petualangan mencari kesembuhan dalam bentuk lain. Mereka bertualang hingga ke Belanda untuk mencari sebuah jawaban atas sederet pertanyaan. Mereka bukan orang-orang yang minta dikasihani.
***
Saat menonton, saya dua kali menitikkan air mata. Dua-duanya bukan di akhir film. Saat film berakhir, saya justru pulang dengan bahagia meski tahu pasangan yang saya harap bersatu tak kesampaian. Saya bahagia karena filmnya berakhir manis dengan caranya sendiri: jawaban yang dicari akhirnya didapat. Sambil melihat tokohnya tersenyum memegang secarik kertas peninggalan sang kekasih, kita pun ikut tersenyum. Ah... sebuah tontonan indah yang sulit dilupakan.

Sumber : http://showbiz.liputan6.com 
Score : 8.4 dari 10

Directed by Josh Boone Produced by Marty Bowen, Wyck Godfrey, Michele Imperato, Isaac Klousner, Written by Scoot Neustadter, Michael H. Weber, John Green Starring Shailene Woodley, Ansel Elgort, Nat Wolff, Laura Dern, Sam Trammell, Lotte Verbeek, Ana Del Cruz, Music by Mike Mogis, Nate Walcott Editing by Robb Sullivan Studio 20th Century Fox Running time 126 minutes Country United States Language English


Monday, June 30, 2014

Sensasi Berkendara Bak Pembalap Dengan Subaru


As usual gw bakal nge review tapi bukan soal film kali ini emang sich rada sedikit kurang nyambung dari film ke otomotif secara nih blog movies tapi ya udah lah yah.. tuntutan karir.. nah kali ini gw bakal ngebahas ketangguhan dan sensasi mengendarai mobil sekelas Subaru.

Seperti kita ketahui Subaru adalah merek mobil sekaligus divisi manufaktur otomotif dari Fuji Heavy Industries (FHI). Yang berpusat di Ōta, Prefektur Gunma, Jepang. Subaru sudah dipasarkan di Indonesia sejak awal tahun 1970-an jadi udah nga asing lagi dong sama kekuatan nih mobil nah untuk lebih memperkenalkan teknologi andalnya Symetrical All Wheel Drive Subaru ke khalayak otomotif Tanah Air, Subaru Indonesia menggelar  All Wheel Drive Challange selama tiga hari dari tanggal 27-29 Juni 2014, di Tribeca Park, Central Park Mall, Jakarta Barat.

Dimana dalam Subaru AWD Challange, para pengunjung di tantang mengendarai mobil Subaru Forester dan Subaru XV untuk menaklukan empat rintangan, meliputi cross rollers, shell pits, side ramp dan slip rollers, rintangan-rintangan ini memberikan simulasi kondisi jalan yang sulit dilalui seperti jalan licin dan tidak rata. Disini sensainya gw bilang mengendarai bak pembalap jadi dengan medan-medan jalan tersebut serasa kita lagi berada di arena relly.

Cross Rollers
Shell Pits

Side Ramp
 

Slip Rollers



Selain Subaru AWD Challange, Subaru Indonesia juga memamerkan beberapa produknya seperti crossover Subaru XV dan WRX STI di Lumina Atrium hingga tanggal 29 Juni 2014.

"Tujuannya adalah untuk lebih mengenalkan teknologi Symetrical all wheel drive yang ada pada kendaraan Subaru. Karena, teknologi ini adalah pertama di mobil berpenggerak all wheel drive dan itu hanya ada di Subaru," jelas Sutrisno Lesmono, Deputy General Manager Subaru Indonesia

So Mau buktiin teknologi canggih subaru??
Test Drive yukk...!!!

Sumber : http://www.gatra.com/carsplus-domestik

Sunday, June 29, 2014

How to Train Your Dragon 2 (2014), Potret Persahabatan Naga dan Manusia

Masih ingatkan sama Hiccup, anak dari raja Stoick the Vast yang berhasil mendamaikan perseteruan bangsanya dengan para naga yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Jika iya, anggap saja semua yang anda tonton sebagai sebuah dasar untuk film kedua.
Studio Dreamworks sepertinya memang sudah sangat percaya diri bahwa film sekuel animasi terbaru produksi mereka ‘How To Train Your Dragon 2‘ akan ‘meledak’ di box office.
Tanpa harus menunggu filmnya rilis di bioskop pada 13 Juni mendatang, Dreamworks sudah langsung menyiapkan sekuel selanjutnya lagi.
Tak hanya akan menjadi trilogy sampai ‘How To Train Your Dragon 3‘, Pihak Dreamworks juga sudah dipastikan akan membuat ‘How To Train Your Dragon 4‘. Hal ini juga dipengaruhi oleh ramainya pujian untuk film ini saat ditayangkan di Festival film paling bergengsi Cannes di Perancis beberapa waktu lalu. Saat tayang tahun 2010, film pertama ‘How To Train Your Dragon’ sukses meraup untung hampir $500 Juta di seluruh dunia. Tak hanya dari segi finansial, filmnya juga berhasil menyabet dua nominasi piala Oscar untuk musik dan film animasi terbaik di tahun 2011. Sekuelnya ‘How To Train Your Dragon 2‘  menceritakan tentang Hiccup (kembali disuarakan oleh aktor komedi Jay Baruchel) dan Naga kesayangannya “Toothless” berpetualang mengunjungi daerah-daerah baru dan bertemu dengan naga-naga dari daerah lain.
Dalam perjalanan inilah, Hiccup dan Toothless kemudian menemukan sebuah rahasia mengenai gua es yang merupakan markas tersembunyi yang ternyata dihuni oleh ratusan naga dan para penunggang nya. Mereka sema sedang mempersiapkan pertarungan untuk menjaga kedamaian. Selain Jay Baruchel sebagai Hiccup, filmnya juga masih diisi suaranya oleh bintang dari film pertamanya seperti Craig Ferguson, America Ferrera, Jonah Hill, Christopher Mintz-Plasse, T.J. Miller, Kristen Wiig, Kit Harrington, dan Gerard Butler.

Pasalnya, berbeda dengan film pertama yang cenderung biasa, film kedua dari How to Train Your Dragon bakal membawa kita menelusuri cerita yang jauh lebih dalam dan lebih megah ketimbang film sebelumnya. Titik klimaks juga akan diperlihatkan lewat pertempuran seru melawan Drago Bludvist yang diceritakan sebagai salah satu pembenci naga yang paling disegani, termasuk oleh Stoick the Vast sendiri.
Ceritanya, bermula dari Hiccup dan naganya, Toothless (naga berjenis Night Fury) yang membolos dari pertandingan mirip Quidditch di Harry Potter yang belakangan jadi hiburan tersendiri di village of Berk, desa tempat Hiccup tinggal.
Sempat diberi wejangan oleh Stoick the Vast untuk meneruskan tahta, Hiccup yang belum yakin dengan kemampuannya pun menjadi gundah dan memilih untuk menjelajah bersama Toothless, dan kekasihnya, Astrid.
Siapa sangka, dari hasil jelajahannya itu, Hiccup menemukan beberapa pihak yang masih antipati terhadap para naga. Dari situ juga, Hiccup sadar kalau Village of Berk bakal menghadapi masalah serius terkait kehadiran para penangkap naga yang dipimpin langsung oleh Drago Bludvist.
Jujur saja, ketika memutuskan untuk menonton film karya sutradara Dean DeBlois ini, ada sedikit kekhawatiran dengan rasa bosan atau ceritanya yang biasa-biasa saja. Terlebih, setelah film pertamanya sukses besar, adaptasi dari novel karangan Cressida Cowell ini pun sempat digubah menjadi miniseri yang hingga kini masih bisa disaksikan di salah satu saluran televisi kabel.
Tapi ternyata, pendapat seperti itu salah besar. Dengan kondisi dimana tokoh-tokohnya sudah terlanjur familiar, DeBlois justru semakin mampu mengarahkan film ini ke arah yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya. Kemunculan karakter Valka yang tak lain adalah ibu dari Hiccup juga berhasil menjadi poin penting dari film ini.
Kalau dipikir-pikir, rasanya seperti melihat gabungan antara Avatar dan Godzilla dengan cara yang lebih manis. Jadi, semisal anda sedikit meragukan tingkat keseruan yang dimiliki film ini, segera lelehkan keraguan tersebut dan bahagiakan keluarga anda melalui adegan-adegan seru khas studio Dreamworks.
Sumber : http://showbiz.liputan6.com 
Score : 8.5 dari 10

Directed by Dean Deblois Produced by Bonnie ArnolMichael A. Connolly, Doug Davison, Dean Deblois Angelin Written by Cressida Cowell, Dean Deblois Starring Jay Baruchel, Cate Blanchett, Gerard Butler, Craig Ferguson, America Ferrera, Jonah Hill Music by John Powell Editing by John K. Carr Studio Dreamworks Running time 45 minutes Country United States Language English